Jumat, 01 Juni 2018

aPakah berbahaya jika keringat berlebihan??

     Kondisi dimana seseorang bisa berkeringat sangat berlebihan dan tidak dapat diprediksi disebut hiperhidrosis.
     Sebenarnya, berkeringat sangat penting bagi tubuh karena berfungsi mengendalikan suhu dan air di dalam tubuh. Seseorang akan berkeringat lebih banyak saat suhu lingkungan panas, ketika berolahraga, atau sebagai respon terhadap situasi yang membuat mereka cemas, marah, malu, atau takut.
   Orang dengan hiperhidrosis berkeringat bahkan di suhu udara sejuk atau ketika mereka sedang dalam kondisi istirahat. Hal ini karena kelenjar keringat yang terlalu aktif.
Ketika keringat berlebih muncul di area tangan, kaki, dan ketiak kondisi ini dinamakan hiperhidrosis primer.
Penyebabnya sampai sekarang belum diketahui dan nampaknya dipengaruhi karena keturunan atau faktor genetik. Risiko bagi mereka yang memiliki hiperhidrosis primer tentu saja perasaan tidak nyaman baik secara fisik maupun emosional.
Tetapi, jika keringat berlebih disebabkan karena kondisi medis yang lain, hal ini disebut hiperhidrosis sekunder.
Dalam hiperhidrosis sekunder, keringat berlebih dapat muncul di semua bagian tubuh atau di satu area. Penyebab dari kondisi ini mungkin disebabkan oleh gangguan kelenjar tiroid atau pituitary, diabetes melitus, penggunaan obat-obatan tertentu, encok, tumor, menopause, atau keracunan merkuri.
Untuk mengetahui apakah keringat berlebihan yang dialami seseorang normal atau tidak sebaiknya berkonsultasi ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kenapa Leher JERAPAH bIsa panjanG?


Kenapa leher jerapah bisa panjang ???
disebabkan oleh beberapa hal pertama, berhubungan dengan kompetisi antarhewan dalam mencari makanan. Leher yang panjang memudahkan jerapah untuk menjangkau makanan yang tidak dapat dijangkau oleh hewan pemakan tumbuhan lainnya.
Beberapa pakar ada yang mengklaim bahwa jerapah memiliki leher panjang supaya dapat menjangkau dedaunan pada pohon yang tinggi.
Tetapi, dugaan ini dibantah oleh para peneliti yang mempelajari pola jerapah ketika makan. Mereka menemukan bahwa jerapah cenderung untuk mencari dedaunan yang lebih rendah letaknya daripada kepala mereka.
Pada kajian yang dilakukan oleh G. Mitchell, S. van Sittert, dan J.D. Skinner yang dilakukan pada 2010 menemukan bahwa jerapah dewasa dengan leher lebih panjang sebenarnya memiliki tingkat kematian lebih tinggi pada musim kering dibandingkan jerapah yang berleher lebih pendek.
Hal ini karena leher yang lebih panjang memerlukan nutrisi yang lebih banyak sehingga musim kering dapat membawa risiko kematian pada jerapah khususnya ketika persediaan makanan terbatas.
Yang Kedua terkait dengan kebiasaan berkelahi Jerapah.
Bila hewan seperti banteng berkelahi dengan adu kekuatan serudukan kepala, lain halnya dengan jerapah yang menggunakan lehernya.
Jerapah jantan memperebutkan jerapah betina dengan mengayunkan leher dan kepala mereka. Makin panjang dan berat leher, makin besar momentum yang dihasilkan untuk menghantam kepala lawan.
Jerapah jantan dengan leher yang lebih panjang dan besar cenderung untuk memenangkan kompetisi memperebutkan betina ini. Gen leher panjang ini kemudian diwariskan pada keturunannya.
Jerapah betina yang mewarisi gen ini akan memiliki leher yang panjang pula, tetapi pada jerapah betina leher akan berhenti tumbuh pada saat remaja sementara pada jerapah jantan akan terus bertumbuh sampai mereka dewasa.